https://jetbis.al-makkipublisher.com/index.php/al/index
256
Jurnal Ekonomi Teknologi & Bisnis (JETBIS)
Volume 2, Number 3 Maret 2023
p-ISSN 2964-903X; e-ISSN 2962-9330
FAKTOR KERAMAHAN PEJALAN KAKI DENGAN PENDEKATAN TRANSPORT
DEMAND OMOTENASHI
Taufik Ismail
Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara Indonesia
tafita1502@gmail.com
ARTIKEL INFO:
Diterima:
27 Februari 2023
Direvisi:
06 Maret 2023
Disetujui:
07 Maret 2023
ABSTRAK
Kegiatan transportasi memiliki dampak yang demikian banyak terkait dengan
pengembangan berkelanjutan masyarakat. Beberapa target dari transportasi
berkelanjutan adalah mengembangkan infrastruktur, menyediakan akses sistem
transportasi, serta menyediakan akses universal menuju ruang hijau dan publik
bagi seluruh kalangan tidak terkecuali bagi pejalan kaki. Namun peminat dan
pengguna pejalan kaki masih minim di beberapa kota besar. Penelitian ini
berusaha mengidentifikasi faktor faktor yang membentuk unsur keramahan
pada pejalan kaki dengan pendekatan Transport Demand Omotenashi.
Pembobotan pengaruh faktor dalam membentuk nilai keramahan pejalan kaki
akan dianalisis dengan Analytic Hierarchy Process. Responden yang dipilih
terdiri atas instansi akademisi dan praktisi yang memiliki kapasitas dalam
menilai bobot kriteria keramahan pejalan kaki. Penelitian ini mengungkapkan
bahwa tingkat keramahan pejalan kaki dipengaruhi oleh unsur pedestrian untuk
wisatawan (0,302), kenyamanan personal (0,234), geometrik penyeberangan
(0,144), fasilitas pejalan kaki (0,139), geometrik jalur pejalan kaki (0,099), dan
kinerja jalur pejalan kaki (0,082).
Kata kunci : Proses Hierarki Analitik, Permintaan Transportasi
Omotenashi, Walkability
PENDAHULUAN
Kegiatan transportasi memiliki dampak yang demikian banyak terkait dengan pengembangan
berkelanjutan masyarakat. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) melalui The 2030 Agenda for
Sustainable Development Goals (United Nations, 2015) telah meluncurkan 17 tujuan pengembangan
berkelanjutan dengan 169 target yang diantaranya memiliki relevansi dengan peran sistem
transportasi (Nabila and SHIMIZU 2017). Beberapa target dari Perserikatan Bangsa Bangsa terkait
transportasi berkelanjutan adalah mengembangkan infrastruktur, menyediakan akses sistem
transportasi, serta menyediakan akses universal menuju ruang hijau dan publik bagi seluruh
kalangan tidak terkecuali bagi pejalan kaki.
Pengguna pejalan kaki masih minim di beberapa kota besar. Penyebab orang orang tidak
memilih untuk berjalan kaki antara lain seperti konektivitas ruas trotoar yang tidak baik,
pencahayaan yang minim pada trotoar di malam hari, serta ketiadaan fasilitas pejalan kaki untuk
beristirahat seperti tempat duduk (NZ Transport Agency, 2009). Untuk menilai faktor faktor
tersebut tentunya diperlukan suatu metode yang terukur dan dapat menjelaskan tingkat keramahan
pejalan kaki (Agustin 2015).
(Kubota et al. 2006) mengembangkan Transport Demand Omotenashi (TDO), suatu konsep
manajemen kebutuhan transportasi yang mencoba menangani permintaan pengguna transportasi
Vol 2, No 3 Maret 2023
Faktor Keramahan Pejalan Kaki Dengan Pendekatan
Transport Demand Omotenashi
257
berdasarkan konsep keramahan. Namun dalam perkembangannya konsep tersebut belum memiliki
kriteria yang baku sehingga memiliki potensi pengembangan sesuai dengan kebutuhan perencanaan
suatu kawasan. Disisi lain, walkability erat kaitannya dalam memenuhi kebutuhan pengguna jalan
untuk berjalan kaki serta memiliki unsur ramah bagi pejalan kaki (Noraffendi and Rahman 2020).
turut telah mengidentifikasi faktor terkait kepuasan pejalan kaki yang terdiri atas faktor lalu lintas
dan faktor wisatawan.
Penelitian ini berusaha mengidentifikasi faktor faktor yang membentuk unsur keramahan
pada pejalan kaki dengan pendekatan Transport Demand Omotenashi (Ovstedal and Ryeng 2002).
Pembobotan pengaruh faktor dalam membentuk nilai keramahan pejalan kaki akan dianalisis dengan
Analytic Hierarchy Process. Responden yang dipilih terdiri atas instansi akademisi dan praktisi yang
memiliki kapasitas dalam menilai bobot kriteria keramahan pejalan kaki (Saaty 2008).
METODE PENELITIAN
Struktur Hirarki
Penelitian ini menggunakan metode AHP dengan tiga tingkatan komponen yaitu tujuan,
kriteria, dan subkriteria. Struktur hirarki AHP dapat dilihatt pada gambar 1.
Gambar 1
Struktur hirarki AHP
(Sumber: Olahan Peneliti, 2023)
Analytic Hierarchy Process (AHP)
Bobot tiap kriteria dihitung dengan metode matriks perbandingan berpasangan. Nilai sintesis
matriks selanjutnya dianalisis untuk menentukan konsistensi dengan Consistency Ratio (CR) kurang
dari 0,1 (Maruyama et al. 2019). Penentuan peringkat dari matriks berpasangan dilakukan dengan
tingkat kepentingan dalam skala 1 s.d. 9. Selanjutnya tiap nilai tingkat kepentingan responden akan
Faktor Keramahan Pejalan Kaki Dengan Pendekatan
Transport Demand Omotenashi
Vol 2, No 2 Februari 2023
https://jetbis.al-makkipublisher.com/index.php/al/index
258
diagregasi sehingga didapatkan nilai tingkat kepentingan berpasangan (pairwise) kombinasi (Zainol
et al. 2014). Matriks perbandingan berpasangan kriteria dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2
Perbandingan Berpasangan Kriteria
Kriteria keramahan pedestrian
1. KJP
2. GJP
3. FP
4. GP
5. KP
6. PUW
1. Kinerja Jalur Pedestrian
1,000
0,512
0,528
0,527
0,380
0,466
2. Geometrik Jalur Pedestrian
1,954
1,000
0,423
0,480
0,379
0,454
3. Fasilitas Pedestrian
1,893
2,364
1,000
0,605
0,588
0,415
4. Geometrik Penyeberangan
1,898
2,082
1,653
1,000
0,319
0,350
5. Kenyamanan Personal
2,634
2,640
1,701
3,133
1,000
0,446
6. Pedestrian untuk Wisatawan
2,147
2,204
2,408
2,853
2,244
1,000
Total
11,526
10,802
7,713
8,599
4,910
3,131
(Sumber: Olahan Peneliti, 2023)
Makna nilai lebih dari satu menunjukkan bahwa salah satu kriteria memiliki tingkat
kepentingan yang lebih tinggi dibandingkan dengan salah satu kriteria lainnya dan berlaku juga
sebaliknya. Sebagai contoh, kriteria geometrik jalur pedestrian lebih penting 1,9254 kali
dibandingkan kriteria kinerja jalur pedestrian (Iffiyah, Santoso, and Setiawan 2022). Setelah
menyusun matriks perbandingan dalam tabel 4.1, maka perhitungan sintesis matriks dapat dilakukan
seperti yang tersaji pada tabel 3 Proses perhitungan sintesis matriks adalah sebagai berikut:
Tabel 3
Kolom 1
Kolom 2
Kolom 3
Kolom 4
Kolom 5
Kolom 6


























































































Vol 2, No 3 Maret 2023
Faktor Keramahan Pejalan Kaki Dengan Pendekatan
Transport Demand Omotenashi
259


















Tabel 4
Tabel Sintesis Matriks Kriteria
Kriteria keramahan pedestrian
1. KJP
2. GJP
3. FP
4. GP
5. KP
6. PUW
Vektor
Prioritas
1. Kinerja Jalur Pedestrian
0,087
0,047
0,068
0,061
0,077
0,149
0,082
2. Geometrik Jalur Pedestrian
0,170
0,093
0,055
0,056
0,077
0,145
0,099
3. Fasilitas Pedestrian
0,164
0,219
0,130
0,070
0,120
0,133
0,139
4. Geometrik Penyeberangan
0,165
0,193
0,214
0,116
0,065
0,112
0,144
5. Kenyamanan Personal
0,229
0,244
0,221
0,364
0,204
0,142
0,234
6. Pedestrian untuk
Wisatawan
0,186
0,204
0,312
0,332
0,457
0,319
0,302
Total
1,000
1,000
1,000
1,000
1,000
1,000
1,000
(Sumber: Olahan Peneliti, 2023)
Nilai vektor prioritas pada tabel 4 diperoleh berdasarkan nilai rata-rata kriteria dibandingkan
dengan kriteria yang lain. Perhitungan perbandingan sub kriteria memiliki cara yang sama dengan
perbandingan kriteria.
Inconsistency
Tahap selanjutnya adalah perhitungan konsistensi hasil AHP dengan syarat CR < 0,1. Jika
konsistensi tidak memenuhi syarat maka perhitungan AHP perlu diulangi kembali pada tingkat
hirarki kriteria dan subkriteria. Nilai rasio diperoleh melalui perhitungan λ maksimum dengan cara
berikut:
















































Selanjutnya perkalian matriks di atas dibagi berdasarkan bobot vektor prioritas kriteria:


















Kemudian dari hasil pembagian di atas dapat dihitung nilai λ maksimum dengan cara berikut:
λ maks =

= 6,363 (3.1)
Faktor Keramahan Pejalan Kaki Dengan Pendekatan
Transport Demand Omotenashi
Vol 2, No 2 Februari 2023
https://jetbis.al-makkipublisher.com/index.php/al/index
260
Selanjutnya adalah menghitung nilai Consistency Index (CI) dan Consistency Ratio (CR)
dengan nilai Random Consistency (RI) sesuai dengan ukuran matriks pada tabel 2.10. Maka dengan
n = 6 digunakan RI = 1,24. Perhitungan CI dan CR adalah sebagai berikut:
CI =




= 0,073 (3.2)
CR =





= 0,059 <0,10 OK (3.3)
RESULTS AND DISCUSSION
Hasil perbandingan tingkat kepentingan kriteria keramahan pejalan kaki dengan analisis
Analytic Hierarcy Process menunjukkan bahwa kriteria dengan bobot besar adalah pedestrian untuk
wisatawan (0,302), kenyamanan personal (0,234), geometrik penyeberangan (0,144), fasilitas
pejalan kaki (0,139), geometrik jalur pejalan kaki (0,099), dan kinerja jalur pejalan kaki (0,082).
Kriteria pedestrian untuk wisatawan memiliki bobot tertinggi. Ketersediaan papan informasi dapat
menarik minat pejalan kaki untuk mengunjungi kawasan yang memiliki bangunan bangunan cagar
budaya. Pejalan kaki juga akan lebih mudah mengetahui posisi mereka sendiri maupun posisi
bangunan cagar budaya sehingga mereka tidak mudah tersasar. Pada kriteria kenyamanan personal,
pejalan kaki membutuhkan kondisi jalur yang kondusif dan aman dari bahaya lalu lintas kendaraan
di kawasan pusat perkotaan yang cukup ramai. Geometrik penyeberangan memberikan persepsi
yang ramah bagi pejalan kaki jika memberikan akses jalur trotoar yang berkesinambungan dengan
adanya pelandaian dan marka penyeberangan yang baik. Fasilitas pejalan kaki yang mampu
memenuhi kebutuhan pejalan kaki seperti fasilitas bangku untuk beristirahat sejenak, penerangan,
dan keberadaan tempat sampah akan memberikan kesan yang ramah dan dapat menarik minat
masyarakat untuk berjalan kaki. Selanjutnya geometrik pejalan kaki yang ideal serta memiliki jalur
hijau akan meningkatkan nilai keramahan pada jalur pejalan kaki. Jalur hijau juga dapat berfungsi
sebagai pembatas pejalan kaki dengan lalu lintas serta peneduh jalan (Tanzil and Gamal 2021).
Kriteria kinerja jalur pejalan kaki memiliki bobot terendah karena masih terpenuhinya kapasitas jalur
pejalan kaki pada kawasan perkotaan dalam melayani arus pejalan kaki.
KESIMPULAN
Penelitian ini mengungkapkan bahwa tingkat keramahan pejalan kaki dipengaruhi oleh unsur
pedestrian untuk wisatawan (0,302), kenyamanan personal (0,234), geometrik penyeberangan
(0,144), fasilitas pejalan kaki (0,139), geometrik jalur pejalan kaki (0,099), dan kinerja jalur pejalan
kaki (0,082). Kriteria pedestrian untuk wisatawan memiliki bobot tertinggi. Ketersediaan papan
informasi dapat menarik minat pejalan kaki untuk mengunjungi bangunan bangunan cagar budaya
di pusat perkotaan. Pejalan kaki juga akan lebih mudah mengetahui posisi mereka sendiri maupun
posisi bangunan cagar budaya sehingga mereka tidak mudah tersasar. Kriteria kinerja jalur pejalan
kaki memiliki bobot terendah karena masih terpenuhinya kapasitas jalur pejalan kaki pada kawasan
pusat perkotaan dalam melayani arus pejalan kaki. Untuk memahami lebih jauh mengenai konsep
Transport Demand Omotenashi maka dapat dilakukan penelitian lebih dalam terkait faktor selain
keramahan yaitu kehangatan dan kekeluargaan. Kehangatan dan kekeluargaan masing-masing
membentuk unsur interaksi sosial dan unsur saling berbagi. Kedua unsur tersebut memiliki potensi
Vol 2, No 3 Maret 2023
Faktor Keramahan Pejalan Kaki Dengan Pendekatan
Transport Demand Omotenashi
261
sebagai penilaian alternatif kinerja jalur pejalan kaki atau pada moda transportasi lainnya seperti
transportasi umum, sehingga dapat mewujudkan kota atau komunitas yang berkelanjutan yang
memiliki sistem transportasi yang aman, terjangkau, dan mudah diakses bagi seluruh kalangan
DAFTAR PUSTAKA
Agustin, I. W. (2015). Tingkat Keramahan Dalam Kemungkinan Penerapan Transportation Demand
Omotenashi (Tdo) Di Kawasan Pusat Kota Malang. Jurnal Sosial Ekonomi Pekerjaan
Umum, 7(2), 143-158. Google Scholar
Iffiyah, K., Santoso, E. B., & Setiawan, R. P. (2022). The Quality Of Pedestrian Based On Pedestrian
Environment Quality Index (Peqi) Standards In The Cultural Heritage Area Of Tunjungan
Street Surabaya. Berkala Sainstek, 10(2), 101-108.Google Scholar
Kubota, H., Uemura, T., Kojo, M., & Sakamoto, K. (2006). Transportation Demand Omotenashi
(Tdo) An Idea And An Analysis. Infrastructure Planning Review, 23, 711-716. Google Scholar
Maruyama, T., Takashima, H., Oguma, H., Nakamura, Y., Ohno, M., Utsunomiya, K., ... & Abe, M.
(2019). Canagliflozin Improves Erythropoiesis In Diabetes Patients With Anemia Of Chronic
Kidney Disease. Diabetes Technology & Therapeutics, 21(12), 713-720.Google Scholar
Nabila, A. G., & Shimizu, T. (2017). Model Development Of Pedestrian Satisfaction Index For
Street Evaluation By Traffic And Non-Traffic Functions In Tourism Area. Journal Of The
Eastern Asia Society For Transportation Studies, 12, 1038-1057.Google Scholar
Noraffendi, B. Q. B. M., & Rahman, N. H. A. (2020, February). Tourist Expectation And
Satisfaction Towards Pedestrian Walkway In Georgetown, A World Heritage Site. In Iop
Conference Series: Earth And Environmental Science (Vol. 447, No. 1, P. 012072). Iop
Publishing.Google Scholar
Ovstedal, L., & Ryeng, E. O. (2002, September). Understanding Pedestrian Comfort In European
Cities: How To Improve Walking Conditions. In European Transport Conference (Pp. 9-
11).Google Scholar
Saaty, T. L. (2008). Decision Making With The Analytic Hierarchy Process. International Journal
Of Services Sciences, 1(1), 83-98. Google Scholar
Ismail, T. (2023). Faktor Keramahan Pejalan Kaki Dengan Pendekatan Transport Demand
Omotenashi. Jurnal Ekonomi, Teknologi Dan Bisnis (Jetbis), 2(3), 256-261. Google Scholar
Zainol, R., Ahmad, F., Nordin, N. A., & Aripin, A. W. M. (2014, February). Evaluation Of Users'
Satisfaction On Pedestrian Facilities Using Pair-Wise Comparison Approach. In Iop
Conference Series: Earth And Environmental Science (Vol. 18, No. 1, P. 012175). Iop
Publishing. Google Scholar
licensed under a
Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License