https://jetbis.al-makkipublisher.com/index.php/al/index
281
Jurnal Ekonomi Teknologi & Bisnis (JETBIS)
Volume 2, Number 3 Maret 2023
p-ISSN 2964-903X; e-ISSN 2962-9330
PENGARUH KONDISI MAKRO EKONOMI TERHADAP PERUBAHAN LABA
OPERASIONAL BANK UMUM SYARIAH DI INDONESIA
Fauzi
1
, Muhammad Suhaidi
2
, Wulandari
3
, Sri Rahayu
4
Institut Teknologi dan Bisnis Bakti Nusantara (IBN) Pringsewu Lampung
1
, Universitas Islam Negeri
Raden Intan Lampung
2
, Institut Teknologi dan Bisnis Bakti Nusantara (IBN) Pringsewu Lampung,
Indonesia
3,4
Email : drfauziibn@gmail.com,muhammadsuhaidi545@gmail.com
ARTICLE INFO:
Diterima:
03 April 2023
Direvisi:
14 April 2023
Disetujui:
16 April 2023
ABSTRAK
Dari masa ke masa dunia perbankan mengalami perubahan dan pertumbuhan
yang signifikan. Persaingan antar bank dalam mempertahankan nasabah dan
meningkatkan kualitas laba menjadikan setiap bank harus mampu utnuk terus
berinovasi dalam berbagai bidang. Kondisi ekonomi makro yang tidak
menentu, dimana dapat menyebabkan gejolak perekonomian yang berdampak
pada tingkat pendapatan yang diperoleh oleh Bank Umum Syariah.
Berdasarkan pada uraian latar belakang rumusan masalah dalam penelitian ini
yaitu bagaimana pengaruh Inflasi, BI Rate, GDP, Nilai Tukar secara Parsial dan
Simultan terhadap Laba Operasional Bank Umum Syariah, serta dalam
perspektif ekonomi syariah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
apakah perubahan kondisi makro ekonomi mampu meningkatkan laba dari
bank umum syariah atau justru membuat laba dari bank umum syariah akan
mengalami penurunan. Metode penelitian ini menggunakan analisis deskriptif
dengan pendekatan kuantitatif. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder
yang diambil dari berbagai website resmi yang terkait dengan data penenlitian
seperti website resmi Otoritas Jasa Keuangan, Bank Indonesia dan Badan Pusat
Statistik. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
analisis statistik deskriptif, uji asumsi klasik, analisis regresi linier berganda,
dan uji hipotesis, dengan menggunakan SPSS for window versi 25 dan
Microsoft excel 2013 dengan level signifikan 0.05. Hasil penelitian secara
parsial menunjukan bahwa inflasi berpengaruh signifikan terhadap perubahan
laba operasional, BI Rate berpengaruh negatif signifikan terhadap perubahan
laba operasional, nilai tukar berpengaruh signifikan terhadap perubahan laba
operasional, dan GDP tidak berpengaruh tidak signifikan terhadap perubahan
laba operasional. Sedangkan secara simultan menunjukan bahwa Inflasi, BI
Rate, Nilai Tukar dan GDP secara bersama-sama berpengaruh terhadap
perubahan laba operasional bank umum syariah. Data ini merupakan data time
series tahun 2017-2020
Kata Kunci : Inflasi, BI Rate, Nilai Tukar, GDP, Laba Operasional, Bank
Umum Syariah.
PENDAHULUAN
Sebagai lembaga yang mengedepankan kepercayaan, bank syariah harus dapat menjaga
kinerja keuangannya dengan baik dalam operasionalnya. Sehubungan dengan kepercayaan
masyarakat, maka bank syariah harus mempunyai permodalan yang memadai, sarana
manajemen permodalan yang dapat mengembangkan earning asset, serta dapat menjaga tingkat
profitabilitas dan likuiditas. Pada sisi lain kenaikan harga-harga (inflasi) yang bersamaan
dengan kenaikan suku bunga telah mendorong biaya produksi naik. Konsekuensi kenaikan
Vol 2, No 3 Maret 2023
Pengaruh Kondisi Makro Ekonomi Terhadap Perubahan
Laba Operasional Bank Umum Syariah Di Indonesia
282
biaya produksi ialah kenaikan harga jual sehingga produsen dan pedagang secara umum
cenderung mengurangi output atau persediaannya, pengurangan output dan produksi berarti
mengurangi pendapatan perusahaan dan juga mengurangi tenaga kerja, dampaknya dapat
terjadi pengangguran, Tingkat inflasi tinggi, suku bunga naik, kemiskinan bertambah, tingkat
pengangguran meningkat dan pertumbuhan ekonomi merosot. Akibatnya pengeluaran untuk
biaya operasional dan produksi menjadi meningkat, sehingga tidak jarang kondisi tersebut
menyebabkan kredit macet meningkat dan rasio kecukupan modal bank serta profitabilitas
turun dan akhirnya pengusaha kesulitan likuiditas. Dalam pelaksanaan kegiatan operasionalnya,
bank tidak terlepas dari pengaruh kondisi perekonomian (Swandayani & Kusumaningtias,
2012). Dalam bukunya, (Sukirno, 2015) menuliskan bahwa faktor makro ekonomi terdiri dari
produk domestik bruto, produk nasional bruto, tingkat pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi,
tingkat pengangguran, nilai tukar valas, jumlah uang beredar dan suku bunga. Penelitian ini
menggunakan faktor makro ekonomi yaitu inflasi, suku bunga dan produk domestik bruto
sesuai penelitian terdahulu sebagai faktor yang dapat mempengaruhi laba operasional bank
syariah. Profitabilitas bank dapat dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor eksternal dan faktor
internal. Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar bank, misalnya kondisi
perekonomian, kondisi perkembangan pasar uang dan pasar modal, kebijakan pemerintah, dan
peraturan Bank Indonesia. Sedangkan faktor internal merupakan faktor yang bersumber dari
bank itu sendiri, misalnya produk bank , kebijakan suku bunga atau bagi hasil di bank syariah,
kualitas layanan, dan reputasi bank. Ukuran yang sering dipakai untuk menilai berhasil atau
tidaknya manajemen suatu perusahaan adalah laba yang diperoleh perusahaan, nantinya laba
ini akan dipergunakan oleh perusahaan untuk kelangsungan hidupnya, jadi laba sangat penting
bagi perusahaan (Rivai et al., 2007).
Pada teori makro ekonomi dan inflasi selalu berkaitan dengan jumlah uang yang beredar
dan kebijakan moneter yang diambil pemerintah melalui bank sentral. Pemerintah bisa
mengendalikan jumlah uang yang beredar dengan mempengaruhi proses penciptaan uang.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan kebijakan moneter melalui tingkat suku
bunga sehingga jumlah uang yang beredar bisa dikontrol. Melalui tingkat bunga inilah
pemerintah dapat mempengaruhi pengeluaran investasi, permintaan agregat, tingkat harga serta
GDP riil. Selain itu pemerintah juga dapat mengatur tingkat suku bunga Bank Indonesia atau
BI rate dengan begitu keuntungan bank dari sisi bunga sangat ditentukan kondisi makro
ekonomi serta regulasi atau kebijakan pemerintah (Santosa, 2017).
Perbankan adalah satu lembaga yang melaksanakan tiga fungsi utama, yaitu menerima
simpanan uang (funding), meminjamkan uang (financing), dan memberikan jasa pengiriman
uang (Service) (Muhith, 2017). Bank syariah adalah bank yang melaksanakan kegiatan
operasionalnya berasarkan prinsip syariah, yaitu aturan perjanjian (akad) berdasarkan hukum
Islam antara bank dan pihak lain (nasabah) untuk penyimpanan dana dan pembiayaan kegiatan
usaha, atau kegiatan lainnya yang dinyatakan sesuai dengan prinsip syariah (Ascarya &
Yumanita, 2005). Sistem bagi hasil yang digunakan bank syariah merupakan sistem yang saling
berbagi dalam risiko antara peminjam dana dan yang meminjamkan dana serta pembagian
keuntungan sesuai dengan kesepakatan.
Di Indonesia, bank syariah muncul pertama kali pada tahun 1992 dengan berdirinya Bank
Muamalat Indonesia BMI bank syariah mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang sesuai
Pengaruh Kondisi Makro Ekonomi Terhadap Perubahan
Laba Operasional Bank Umum Syariah Di Indonesia
Vol 2, No 3 Maret 2023
https://jetbis.al-makkipublisher.com/index.php/al/index
283
dengan prinsip Perbankan Syariah agama islam yang dianutnya, khususnya yang berkaitan dengan
pelarangan praktek riba, kegiatan yang bersifat spekulatif yang non produktif yang serupa dengan
perjudian, ketidakjelasan, dan pelanggaran prinsip keadilan dalam bertransaksi, sera keharusan
penyaluran pembiayaan dan investasi pada kegiatan usaha yang etis dan halal secara syariah.
Perkembangan bank syariah yang pesat baru terasa semenjak era reformasi pada akhir 1990-an,
setelah pemerintah dan Bank Indonesia memberikan komitmen besar dan menempuh berbagai
kebijakan untuk mengembangkan bank syariah, khususnya sejak perubahan undang-undang
perbankan dengan UU No. 10 tahun 1998. Sejak dikeluarkannya ketentuan Bank Indonesia yang
memberi izin untuk pembukaan bank syariah yang baru maaupun izin kepada bank konvensional
untuk mendirikan suatu unit usaha syariah (UUS). Semenjak itu bank syariah tumbuh dimana-mana
seperti jamur di musim hujan (Ascarya et al., 2008). Pada periode tahun 1992-1998 hanya a
da satu
unit bank syariah, pada tahun 2005 jumlah bank syariah di Indonesia telah bertambah menjadi
20 unit, yaitu 3 bank umum syariah dan 17 unit usaha syariah. Sementara itu jumlah Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) hingga akhir tahun 2004 bertambah menjadi 88 buah
(Karim, 2007).
Variabel Makro Ekonomi merupakan cabang dari ekonomi yang mempelajari aspek-
aspek ekonomi dalam lingkup agregat atau menyeluruh atau luas seperti pendapatan nasional,
inflasi, pengangguran atau kesempatan kerja, kependudukan, neraca pembayaran internasional,
investasi masyarakat, tingkat bunga, jumlah uang beredar, utang pemerintah, dan lain-lain. Pada
dasarnya pemerintah melakukan kebijakan makro ekonomi adalah untuk mencapai:
Peningkatan kapasitas produksi nasional yang tinggi (high capacity) Mencapai tingkat
pendapatan nasional yang tinggi, economic growth atau pertumbuhan ekonomi yang cukup
tinggi Stabilitas ekonomi (economic stability): inflasi terkendali, angka pengangguran rendah,
atau membuka kesempatan kerja yang luas Neraca pembayaran yang menguntungkan
(favorable balance of payment) Distribusi pendapatan yang lebih merata dan adil (equalization)
(Muhith, 2017).
Dalam tahun 1929-1932 terjadi kemunduran ekonomi diseluruh dunia, yang bermula dari
kemorosatan ekonomi di Amerika Serikat, Periode tersebut dinamakan the Great Depression.
Pada puncak kemerosotan ekonomi itu, seperempat dari tenaga kerja di Amerika Serikat
menganggur dan pendapatan nasionalnya mengalami kemerosotan yang sangat tajam.
Kemunduran ekonomi yang serius itu meluas ke seluruh dunia. Hal tersebut mendorong seorang
ahli ekonomi Inggris yang terkemuka pada masa tersebut, yaitu John Maynard Keynes
mengemukakan pandangan tentang teori makro ekonomi yang ditulis dalam bukunya yang
berjudul: The General Theory of Employenment, Interest and Money (Sukirno, 2015).
Keynes menerangkan bahwa pemerintah harus melakukan campur tangan dalam
mengendalikan perekonomian nasional dengan kebijakan-kebijakan secara aktif sehingga
mempengaruhi gerak perekonomian. Pentingnya peran pemerintah dalam perekonomian
sebenarnya telah diungkapkan oleh Ibnu Khaldun, Ibnu Khaldun menyatakan bahwa
pemerintah adalah pasar terbesar dalam hal pendapatan dan penerimaan (Karim, 2007). Analisa
makro ekonomi merupakan analisis terhadap faktor-faktor eksternal yang bersifat makro, yang
berupa peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar perusahaan, sehingga tidak dapat dikendalikan
secara langsung oleh perusahaan. Lingkungan makro ekonomi akan mempengaruhi operasional
perusahaan yang dalam hal ini keputusan pengambilan kebijakan yang berkaitan dengan kinerja
Vol 2, No 3 Maret 2023
Pengaruh Kondisi Makro Ekonomi Terhadap Perubahan
Laba Operasional Bank Umum Syariah Di Indonesia
284
keuangan perbankan. Faktor-faktor yang mempengaruhi suatu keputusan manajemen
perusahaan perbankan adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal dapat
dikaitkan dengan pengambilan kebijakan dan strategi operasional bank. Sementara faktor
eksternal (faktor yang berasal dari luar perusahaan), meliputi kebijakan moneter, fluktuasi nilai
tukar, dan tingkat inflasi, volatilitas tingkat bunga, dan inovasi instrument keuangan (Atmadja,
1999).
D
ua tahun berturut-turut, ekonomi dunia terus mengalami perlambatan, Perekonomian dunia
dilanda berbagai macam gejolak ekonomi seperti perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok,
perang geopolitik, dan perlambatan ekonomi di berbagai negara, dan gejolak ekonomi lainnya. Di
tahun 2019, perlambatan ekonomi dunia masih terjadi, menurut (IMF, 2003), perekonomian dunia
pada tahun 2019 tumbuh sebesar 2,9 persen atau mengalami pertumbuhan yang melambat
dibandingkan dua tahun sebelumnya yaitu 3,9 persen pada tahun 2017 dan 3,6 persen pada tahun
2018. Nilai pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2019 ini juga dibawah prediksi IMF pada April 2019
yang menyatakan bahwa ekonomi dunia tumbuh sebesar 3,3 persen (Banurea, 2021). Adanya
pergeseran struktural pada perekonomian global turut andil dalam menyebabkan belum kuatnya
perekonomian dunia. Banyak negara yang memberlakukan kebijakan yang berorientasi pada
domestik, meningkatnya volatilitas arus modal dunia, semakin pesatnya perkembangan ekonomi
digital, perubahan perilaku kegiatan ekonomi terkait respon perkembangan digital dalam ekonomi,
serta terintegrasinya berbagai kebijakan yang menyatu, merupakan bentuk pergeseran struktural
yang terjadi. Terjadinya perlambatan ekonomi dunia terindikasi dari melambatnya pertumbuhan
ekonomi di beberapa negara maju (Narbuko & Achmadi, 2003).
Sementara itu, inflasi di negara maju cenderung mengalami penurunan bila dibandingkan
dengan inflasi tahun 2018. Hal ini sudah sesuai dengan prediksi (IMF, 2003) yang menyatakan akan
adanya penurunan laju inflasi di negara maju. Namun demikian, besaran angka inflasinya ternyata
sedikit dibawah prediksi yaitu inflasi 2019 sebesar 1,4 persen berbanding prediksinya sebesar 1,6
persen. Turunnya nilai inflasi terjadi di hampir seluruh negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang,
Inggris, Kanada, Korea, Australia dan rata-rata negara maju di Kawasan Eropa. Hanya Belanda yang
mencatatkan adanya peningkatan laju inflasi dari 1,6 persen pada tahun 2018 menjadi 2,7 persen di
tahun 2019. Sementara itu, inflasi di negara berkembang menunjukkan adanya peningkatan laju
inflasi, secara umum laju inflasi negara berkembang mencapai 5,0 persen atau meningkat sekitar 0,2
poin persen bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 4,8 persen. Kenaikan laju
inflasi di tahun 2019 ini juga sesuai prediksi (IMF, 2003), namun ternyata lebih tinggi dari prediksi
awal sebesar 4,9 persen. Walaupun demikian, Kawasan Timur Tengah dan Asia Tengah masih
menjadi kawasan dengan laju inflasi tertinggi di negara berkembang. Hal ini disebabkan kenaikan
harga masih terjadi akibat masih terjadinya ketegangan geopolitik di kawasan ini. Melemahnya
Ekonomi Dunia Akibat Pandemi COVID-19.
Dampak dari pandemi Covid-19 di beberapa negara adalah diberlakukan kebijakan
pembatasan kegiatan manusia dan bahkan pemberlakuan lockdown di negara masing-masing.
Pembatasan kegiatan ini bertujuan untuk menghentikan dan menghambat potensi penyebaran virus
agar tidak menyebar secara luas, namun pemberlakuan kebijakan ini mempunyai dampak pada
melemahnya kinerja ekonomi. Pembatasan kegiatan yang dilakukan telah menghentikan kegiatan
ekonomi masyarakat dan menghambat kegiatan produksi dan distribusi barang. Kegiatan ekonomi
Pengaruh Kondisi Makro Ekonomi Terhadap Perubahan
Laba Operasional Bank Umum Syariah Di Indonesia
Vol 2, No 3 Maret 2023
https://jetbis.al-makkipublisher.com/index.php/al/index
285
yang terbatas tidak hanya pada kegiatan di dalam negeri tetapi kegiatan ekonomi yang berhubungan
dengan luar negeri seperti ekspor dan impor.
Beberapa permasalahan yang muncul harus disikapi dan diatasi oleh pemerintah sehingga
dapat diminimalkan efek buruk permasalahan tersebut pada perekonomian. Dikutip dari berbagai
sumber, tantangan dan hambatan masalah ekonomi yang harus dihadapi Indonesia yaitu masih
terjadinya ketidakpastian serta perlambatan ekonomi global, defisit transaksi berjalan dan defisit
neraca perdagangan, melambatnya pertumbuhan kredit, melambatnya investasi asing dan investasi
dalam negeri, dampak tidak tercapainya target penerimaan pajak, potensi melemahnya konsumsi
masyarakat karena kenaikan iuran BPJS Kesehatan, pengurangan subsidi energi kenaikan cukai
rokok. Sementara pada tahun 2020 hingga bulan Mei, rasio utang mencapai 32,1 persen, terjadinya
peningkatan utang ini dikarenakan oleh meningkatnya belanja negara setiap tahunnya yang lebih
agresif untuk infrastruktur, perlindungan sosial, dan dana desa, terutama tahun 2020 yang fokus pada
penanganan pandemi. Meskipun dalam kurun waktu 2016-2020 utang pemerintah meningkat,
namun tidak melanggar amanat UndangUndang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara
dimana rasio utang kurang dari 60 persen dari PDB. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,02
persen di tahun 2019 lebih rendah dari target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan pemerintah
sebesar 5,2 persen. Bahkan menjadi pertumbuhan ekonomi yang terendah selama empat tahun
terakhir.
Kondisi perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak lepas dari berlanjutnya kondisi
perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia yang hanya tumbuh sebesar 2,9 persen. Faktor-faktor
yang mempengaruhinya seperti perseteruan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, peristiwa
keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit), dan beberapa kejadian dari beberapa negara Hong Kong,
Iran, dan Irak yang mempengaruhi stabilitas ekonomi nasional.
Perkembangan perbankan syariah saat ini sangatlah pesat, dari pertama muncul ditahun 1992
hingga saat ini Desember 2022 mencapai 2.426 jaringan kantor Bank Umum Syariah dan Unit Usaha
Syariah. Peningkatan jumlah bank syariah di Indonesia juga diiringi dengan meningkatnya jumlah
aktiva yang dimilikinya. Berdasarkan laporan statistik total aset bank umum syariah dan unit usaha
syariah setiap tahunnya meningkat. Tahun 2017 sebesar Rp.424.181 Milyar, pada tahun 2018
sebesar Rp.477.327 Milyar , Tahun 2019 sebesar Rp.524.564 Milyar, dan pada Tahun 2020 sebesar
Rp.593.948 Milyar. Disisi perbankan, apabila industri mengalami kesulitan akibat meningkatnya
biaya produksi, dikhawatirkan akan berdampak pada semakin meningkatnya NPL/NPF sektor
industri.
Kenaikan harga BBM yang sangat tinggi telah menyebabkan ekonomi memburuk.
Tingkat inflasi tinggi, suku bunga naik, kemiskinan bertambah, tingkat pengangguran
meningkat dan pertumbuhan ekonomi merosot. Akibatnya pengeluaran untuk biaya operasional
dan produksi menjadi meningkat, sehingga tidak jarang kondisi tersebut menyebabkan kredit
macet meningkat dan rasio kecukupan modal bank serta profitabilitas turun dan akhirnya
pengusaha kesulitan likuiditas. Perekonomian Indonesia menurut Miranda S. Goeltom
menghadapi beberapa tantangan utama. Tantangan tersebut antara lain:
Pertama, tekanan terhadap ketidakstabilan makro ekonomi diperkirakan masih akan
berlanjut. Dampak kenaikan harga BBM diperkirakan akan berkonstribusi pada peningkatkan
tekanan inflasi ke depan. Kedua, perkembangan harga minyak dunia yang mempunyai potensi
tetap tinggi, serta tren kenaikan suku bunga The Fed telah mempengaruhi kondisi ekonomi
domestik, yang pada gilirannya juga
berdampak negatif pada sektor perbankan. Dalam kaitan ini,
Vol 2, No 3 Maret 2023
Pengaruh Kondisi Makro Ekonomi Terhadap Perubahan
Laba Operasional Bank Umum Syariah Di Indonesia
286
kenaikan BI Rate dan suku bunga penjaminan telah memaksa bank untuk melakukan penyesuaian
di kedua sisi neraca. Pada sisi aktiva kenaikan suku bunga kredit berisiko meningkatkan non
performance loan (NPL), sementara pada sisi pasiva cost of fund menjadi lebih tinggi terkait dengan
upaya bank guna mempertahankan dana masyarakat yang telah dihimpun. Kondisi tersebut akan
dapat mempengaruhi kinerja perbankan secara signifikan.
Ketiga, dari sisi eksternal, walaupun
kondisi neraca pembayaran diperkirakan akan mencatat surplus, namun masih terdapat beberapa
risiko yang dapat mempengaruhi kondisi neraca pembayaran, seperti rendahnya realisasi penarikan
utang luar negeri (ULN) pemerintah dan pembalikan arus modal portofolio. Di samping itu, realisasi
pembalikan arus modal asing portofolio pada akhir tahun dan berlanjutnya siklus pengetatan
ekonomi AS juga dapat mempengaruhi Lalu lintas Modal (LLM) swasta. Namun, di lain pihak,
masih terdapat harapan, mengingat potensi kenaikan ekspor non migas yang lebih tinggi dari
perkiraan semula. Dalam jangka pendek, beberapa risiko tersebut berpotensi menimbulkan
ketidakstabilan moneter, terutama tekanan inflasi yang akan cenderung besar dari perkiraan semula.
Dalam jangka pendek, beberapa risiko tersebut berpotensi menimbulkan ketidakstabilan moneter,
terutama tekanan inflasi yang akan cenderung besar.
Inflasi adalah kecenderungan harga-harga naik secara umum dan terus-menerus. Inflasi
yang tinggi akan mengakibatkan daya beli masyarakat menurun dan kenaikan tingkat bunga.
Besar kecilnya laju inflasi akan mempengaruhi suku bunga dan kinerja keuangan perusahaan
khususnya dari sisi laba operasional. Inflasi terjadi hampir di seluruh negara di dunia dan
menurut (Friedman, 2009) sebenarnya merupakan sebuah fenomena moneter. BI rate sebagai
variabel yang cukup penting dan berpengaruh dalam aktivitas perekonomian Indonesia serta
sebagai angka pembanding tingkat bagi hasil bank syariah dalam sebuah dual banking system.
Bank syariah merupakan bank berbasis sektor riil dan perkembangan sektor riil biasa diukur
dengan pertumbuhan ekonomi. Menurut (Mulyani, 2016), BI Rate adalah suku bunga kebijakan
yang mencerminkan sikap atau stance kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Bank Indonesia
dan diumumkan kepada publik. BI rate diumumkan oleh Dewan Gubernur Bank Indonesia
melalui rapat dewan gubernur yang diadakan setiap bulan dan diimplementasikan pada operasi
moneter yang dilakukan melalui pengelolaan likuiditas di pasar uang untuk mencapai sasaran
operasional kebijakan moneter. Pendapatan nasional dapat diartikan sebagai sejumlah barang
dan jasa yang dihasilkan suatu Negara pada periode tertentu, biasanya satu tahun. Perhitungan
pendapatan nasional akan menghasilkan GDP secara teratur yang merupakan ukuran dasar dari
performansi perekonomian dalam memproduksi barang dan jasa. Selain itu perhitungan
pendapatan nasional juga berguna untuk menerangkan kerangka kerja hubungan antara variabel
makro ekonomi (Huda, 2018).
Kurs atau nilai tukar adalah jumlah atau harga mata uang domestik dari mata uang luar
negeri (asing) atau rasio antara satu unit (satuan) mata uang dan jumlah mata uang yang lain
pada waktu tertentu (Salvatore, 2020). Masih tingginya tekanan terhadap nilai tukar maka akan
mengakibatkan tingginya suku bunga. Tingginya ketidakpastian dalam banyak aspek baik
sosial, politik, maupun ekonomi telah banyak mempengaruhi perilaku dan ekspektasi para
pelaku pasar valas terhadap kecenderungan melemahnya nilai tukar rupiah. Hal ini tercermin
pada pergerakan premi or ward yang berada pada tingkat yang cukup tinggi. Kondisi tersebut
tidak kondusif untuk menarik investor asing menanamkan modalnya di dalam negeri sehingga
mengakibatkan suku bunga yang cukup tinggi.
Pengaruh Kondisi Makro Ekonomi Terhadap Perubahan
Laba Operasional Bank Umum Syariah Di Indonesia
Vol 2, No 3 Maret 2023
https://jetbis.al-makkipublisher.com/index.php/al/index
287
Tabel 1
Data Inflasi, BI Rate, Nilai Tukar, GDP Tahun 2017-2020
No
Tahun
Inflasi
BI Rate
Nilai tukar
GDP
1
2017
3.61%
4.25%
Rp. 13.548
Rp.13.588,8 Triliun
2
2018
3.13%
6.00%
Rp. 14.481
Rp. 14.837,4 Triliun
3
2019
2.72%
5.00%
Rp. 13.901
Rp. 15.833,9 Triliun
4
2020
1.67%
3.75%
Rp. 14.105
Rp. 15.434,2 Triliun
Sumber:
Badan Pusat Statistik
Kondisi makro ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2020 mengalami fluktuasi yang signifikan. Hal ini
ditandai dengan perubahan angka indikator inflasi dan BI rate yang berubah-ubah. Pada awal tahun 2020
inflasi mencapai angka 2.68 % dan BI Rate sebesar 5,00 % serta nilai tukar rupiah sebesar Rp. 13.662
sedangkan besar GDP Rp.3.922,6 triliun. Memasuki akhir tahun 2020 keadaan perekonomian Indonesia
berubah dimana inflasi dan BI rate mengalami penuruan 1.68 % dan 3.75 %, serta nilai tukar rupiah naik
menjadi Rp. 14.105 sedangkan GDP juga mengalami kenaikan sebesar Rp. 3.929,2 triliun. Dari tahun 2017
sampai 2020 dapat kita lihat bahwa laba operasional selalu mengalami kenaikan yang cukup signifikan hal
tersebut menunjukkan bahwa kinerja dari perbankan syariah yang semakin lebih baik. Pada teori makro
ekonomi, inflasi selalu berkaitan dengan jumlah uang yang beredar dan kebijakan moneter yang diambil
pemerintah melalui bank sentral. Pemerintah bisa mengendalikan jumlah uang yang beredar dengan
mempengaruhi proses penciptaan uang. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan kebijakan
moneter melalui tingkat suku bunga sehingga jumlah uang yang beredar bisa dikontrol. Melalui tingkat bunga
inilah pemerintah dapat mempengaruhi pengeluaran investasi, permintaan agregat, tingkat harga serta GDP
riil. Selain itu pemerintah juga dapat mengatur tingkat suku bunga Bank Indonesia atau BI rate. Dengan begitu
keuntungan bank dari sisi bunga sangat ditentukan kondisi makro ekonomi serta regulasi atau kebijakan
pemerintah.
Table 2
Data Laba Operasional Perbankan Syariah Tahun 2017-2020
No
Tahun
Laba
Oprasional
1
2017
14.920
2
2018
24.589
3
2019
33.954
4
2020
32.610
Sumber: Otoritas jasa keuangan
Dari data-data tersebut dapat kita lihat bahwa kondisi makro ekonomi dapat mempengaruhi
laba operasional perbankan syariah. Namun fenomena data tersebut dapat ditarik simpulan bahwa
tidak setiap kejadian empiris sesuai dengan teori yang ada. Hal ini dibuktikan dengan meski kondisi
makro ekonomi seperti inflasi, BI rate, serta pendapatan nasional di Indonesia mengalami fluktuasi
yang tak menentu namun laba operasional perbankan syariah hampir dari waktu ke waktu selalu
mengalami peningkatan hanya beberapa waktu saja yang mungkin mengalami sedikit penurunan.
Dari permasalahan tersebut, penelitian ini akan mencoba menjelaskan faktor-faktor yang
mempengaruhi perubahan laba operasional bank umum syariah dari tahun 2017-2020. Adapun
variabel yang diambil dan dipilih pada penelitian ini adalah Inflasi, BI Rate, GDP, Nilai Tukar
Rupiah sebagai variabel bebas dan perubahan laba operasional sebagai variabel terikat.
Bank Syariah
Bank Syariah adalah Bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah
Vol 2, No 3 Maret 2023
Pengaruh Kondisi Makro Ekonomi Terhadap Perubahan
Laba Operasional Bank Umum Syariah Di Indonesia
288
dan menurut jenisnya terdiri atasBank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.
Sementara Unit Usaha Syariah menurut Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 adalah unit kerja dari
kantor pusat Bank Umum Konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor atau unit
yang melaksanakan usaha berdasarkan prinsip syariah, atau unit kerja di kantor cabang dari suatu
bank yang berkedudukan di luar negeri yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional yang
berfungsi sebagai kantor indukndari kantor cabang pembantu syariah dan atau unit syariah (Al Arif,
2012).
Laba
Laba operasi disebut juga laba usaha, yaitu laba yang diperoleh dari selisih antara laba
kotor dengan beban operasi. Ukuran yang sering dipakai untuk menilai berhasil atau tidaknya
manajemen suatu perusahaan adalah laba yang diperoleh perusahaan, nantinya laba ini akan
dipergunakan oleh perusahaan untuk kelangsungan hidupnya, jadi laba sangat penting bagi
perusahaan.
Makro Ekonomi
Makro ekonomi merupakan cabang dari ekonomi yang mempelajari aspek-aspek ekonomi
dalam lingkup agregat atau menyeluruh atau luas seperti pendapatan nasional, inflasi,
pengangguran atau kesempatan kerja, kependudukan, neraca pembayaran internasional,
investasi masyarakat, tingkat bunga, jumlah uang beredar, utang pemerintah, dan lain-lain.
Dalam penelitian ini yang digunakan indikator makro ekonomi adalah Inflasi, BI Rate, Produk
Domestik Bruto, dan Nilai Tukar Rupiah.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif yang
memberikan gambaran terperinci mengenai pengaruh inflasi, BI rate, GDP, dan nilai tukar terhadap
perubahan laba operasional bank umum syariah tahun 2017-2020.
Dalam penelitian ini, penulis mengumpulkan data atau informasi dengan cara membaca atau
mengutip, dan menyusun berdasarkan data-data yang telah diperoleh yang berasal dari data primer
dan data sekunder. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari catatan, buku, majalah, dan lain
sebagainya. Beberapa sumber data sekunder yang peneliti peroleh adalah data-data dari internet,
jurnal, dan buku-buku sebagai bahan pelengkap dalam penelitian ini. Jenis dan sumber data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder yang di dapat dari penelitian
ini berupa perubahan laba operasional bank umum syariah yang berasal dari website resmi Otoritas
Jasa Keuangan (OJK) . Sedangkan untuk data inflasi, BI rate, dan nilai tukar diambil dari website
resmi Bank Indonesia (BI). Serta data laju pertumbuhan GDP berasal dari website resmi Badan Pusat
Statistik (BPS) dan data makro ekonomi lainnya diperoleh dari website resmi Kementerian
PPN/Bappenas. Data ini merupakan data time series tahun 2017-2020.
Populasi dalam penelitian ini adalah Bank Umum Syariah yang terdaftar di BI dan OJK yang
terdapat dalam Statistik Perbankan Syariah (SPS), yaitu:
a. PT. Bank Aceh Syariah
b. PT. BPD Nusa Tenggara Barat Syariah
c. PT. Bank Muamalat Indonesia
d. PT. Bank Victoria Syariah
e. PT. Bank BRI Syariah
Pengaruh Kondisi Makro Ekonomi Terhadap Perubahan
Laba Operasional Bank Umum Syariah Di Indonesia
Vol 2, No 3 Maret 2023
https://jetbis.al-makkipublisher.com/index.php/al/index
289
f. PT. Bank Jabar Banten Syariah
g. PT. Bank BNI Syariah
h. PT. Bank Syariah Mandiri
i. PT. Bank Mega Syariah
j. PT. Bank Panin Dubai Syariah
k. PT. Bank Syariah Bukopin
l. PT. BCA Syariah
m. PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah
n. PT. Maybank Syariah Indonesia
Sampel yang dipilih perlu diketahui terlebih dahulu karakteristiknya sehingga sampel relevan
dengan tujuan masalah penelitian. Karena data yang diperlukan terdapat dalam SPS (laporan
keuangan Perbankan Syariah bulanan tahun 2017-2020), sehingga sampel yang diambil adalah
seluruh Bank Umum Syariah dari tahun 2017-2020. Teknik analisis data yang digunakan oleh
peneliti adalah analisis kuantitatif. Metode yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda.
Penerapan metode ini akan menghasilkan tingkat hubungan antara variabel-variabel yang diteliti.
Adapun analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu, analisis Statistik Deskriptif, Uji Asumsi
Klasik yang meliputi Uji Normalitas, Uji Multikolinearitas, Uji Autokorelasi, Analisis Regresi
Linier Berganda, Uji Koefisien Determinansi (R
2
) dan Uji Hipotesis yang meliputi Uji F dan Uji
T.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Data Penelitian
Analisis Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan atau memberikan gambaran terhadap
obyek yang diteliti melalui data sampel atau populasi sebagaimana adanya, statsistik deskriptif juga
menggambarkan sebuah data menjadi informasi yang lebih jelas dan mudah dipahami dalam
mengintepresentasikan hasil analisis data dan pembahasannya.
Adapun hasil olah data dengan menggunakan SPSS 22 disajikan dalam table 3 berikut:
Tabel 3
Statistik Deskriptif
N
Minimum
Maximum
Mean
Std.
Deviation
Inflasi (X1)
48
1.32
4.37
3.0388
.75755
BI Rate (X2)
48
3.75
6.00
4.8854
.70703
Nilai Tukar
(X3)
48
13319
16367
14105.33
622.211
GDP (X4)
48
-5.32
5.27
3.2569
3.48646
Laba
Operasional
(Y)
48
95
5599
2209.85
1402.293
Valid N
(listwise)
48
Sumber : Output SPSS 25, 2022
Hasil dari analisis deskriptif diatas menunjukan bahwa selama periode 2017-2020
Vol 2, No 3 Maret 2023
Pengaruh Kondisi Makro Ekonomi Terhadap Perubahan
Laba Operasional Bank Umum Syariah Di Indonesia
290
menghasilkan rata-rata inflasi sebesar 3,0388. Sedangkan untuk tingkat inflasi tertinggi sebesar 4,37
dan untuk tingkat inflasi terendah 1,32. Sedangkan nilai standar deviasi memiliki nilai sebesar
0,75755. Nilai tukar selama tahun 2017-2020 berada di titik terendah 13319 dan nilai tukar berada
pada titik tertinggi 16367. Sedangkan untuk nilai tukar rata-rata sebesar 14105.33 dengan standar
deviasi 622.221. Untuk GDP sendiri di periode 2017-2020 berada pada titik terendah pada nilai -
5,32 sedangkan nilai GDP tertinggi sebesar 5,27. Sedangkan untuk nilai rata-rata GDP sebesar
3,2569 dengan standar deviasi sebesar 3,48646. Perubahan laba operasional bank umum syariah
pada tahun 2017-2020 memliki nilai tertinggi sebesar 5599 dan berada pada titik terendah sebesar
95 yang menunjukan mengalami penuruanan laba operasional dengan nilai rata-rata 2209.85.
sedangkan standar deviasi sebesar 1402.293.
Uji Asumsi Klasik
Uji Normalitas
Uji normalitas perlu dilakukan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi, variabel
terikat, variabel bebas, atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Uji normalitas data
menggunakan tiga uji yaitu analisis One Sample Kolmogorov-Smirnov serta uji grafik Histogram &
Normal P-P Plot Of Regressions Standardized Residual.
Gambar 1
Histogram Normalitas
Sumber: Output SPSS 25,2022
Berdasarkan grafik histogram pada gambar 1 terlihat bahwa data terdistribusi normal
berbentuk simetris yaitu tidak menceng ke kanan atau ke kiri. maka dapat dikatakan bahwa model
regresi memenuhi asumsi normalitas.
Pengaruh Kondisi Makro Ekonomi Terhadap Perubahan
Laba Operasional Bank Umum Syariah Di Indonesia
Vol 2, No 3 Maret 2023
https://jetbis.al-makkipublisher.com/index.php/al/index
291
Gambar 2
Hasil Uji Statistik Kolmogorov-Simirnov
Sumber : output SPSS 25,2022
Berdasarkan grafik normal PP-Plot pada gambar 2 terlihat bahwa titik-titik menyebar disekitar
garis diagonal, hal ini menunjukan distribusi normal, sehingga dapat disimpulkan bahwa model
regresi memenuhi asumsi normalitas.
Tabel 4
Hasil Uji Statistik Kolmogorov-Smirnov Test
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized
Residual
N
48
Normal Parameters
a,b
Mean
.0000000
Std. Deviation
1173.68568283
Most Extreme Differences
Absolute
.080
Positive
.080
Negative
-.052
Test Statistic
.080
Asymp. Sig. (2-tailed)
.200
c,d
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
d. This is a lower bound of the true significance.
Sumber : Output SPSS 25,2022
Berdasrkan uji statistik Kolmogorov-smirnov pada table 4.2 diatas, besarnya nilai
Kolmogorov-smirnov adalah 0,080 dengan probabilitas signifikan 0,200 > 0,05, hasil tersebut
menunjukan bahwa data residual terdistribusi secara normal. Hal ini konsisten dengan hasil uji grafik
normal PP-Plot. Sehingga dapat disimpulkan bahwa uji normalitas dengan menggunakan analisis
statistik histogram dan normal PP-Plot serta analisis statistik kolmogorov-smirnov pada penelitian
ini telah memenuhi asumsi normalitas.
Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya
korelasi yang tinggi atau sempurna antar variabel independen. Jika hubungan itu mendekati 1 artinya
Vol 2, No 3 Maret 2023
Pengaruh Kondisi Makro Ekonomi Terhadap Perubahan
Laba Operasional Bank Umum Syariah Di Indonesia
292
hubungannya mendekati sempurna. Dasar pengambilan keputusan adalah apabila nilai tolerance >
0,1 atau sama dengan nilai VIF <10 berarti tidak ada multikolinearitas antar variabel dalam model
regresi.
Tabel 5
Uji Multikolinearitas
Coefficientsa
Model
Collinearity Statistics
Tolerance
VIF
1
Inflasi (X1)
.780
1.283
BI Rate (X2)
.909
1.100
Nilai Tukar (X3)
.931
1.074
GDP (X4)
.888
1.127
a. Dependent Variable: Laba Operasional (Y)
Sumber: output SPSS 25,2022
Dari hasil uji SPSS yang ditunjukan pada table 4.3 diketahui bahwa nilai tolerance variable
inflasi (X1) sebesar 0,780, BI rate (X2) sebesar 0,909, nilai tukar (X3) sebesar 0,931, dan GDP (X4)
sebesar 0.888 dimana > 0,1. Sedangkan nilai Variance Inflati Factor (VIF) variabel inflasi (X1)
sebesar 1,238, BI rate (X2), nila tukar (X3) sebesar 1,074, dan GDP (X4) sebesar 1,127 < 10.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikoliniearitas antara variabel independen dan
model regresi pada penelitian ini.
Uji Autokorelasi
Uji autokolerasi bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi linier ada
kolerasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahn pada periode t-1 sebelumnya.
Adapun kategori adalah sebagai berikut:
1. Jika angka DW di bawah -2 berarti ada autokorelasi positif
2. Jika angka DW di antara -2 dan +2 berarti tidak ada autokorelasi
3. Jika angka DW di atas +2 berarti ada autokorelasi negative.
Tabel 6
Uji Autokorelasi
Model Summaryb
R
R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
Durbin-Watson
.707
a
.500
.453
1025.480
1.850
a. Predictors: (Constant), GDP , BI Rate , Nilai Tukar , Inflasi
b. Dependent Variable: Laba Operasional
Sumber : Output SPSS 25,2022
Berdasarkan uji yang telah dilakukan maka didapat nilai durbin Watson sebesar 1.850.
Kemudian nilai tersebut dibandingkan dengan kriteria pengujian yang telah ditetapkan. Berdasarkan
kriteria pengujian dan nilai durbin Watson diketahui sebesar 1.850 berada diantara -2 dan +2.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi dalam penelitian ini tidak ada autokorelasi.
Analisis Linier Berganda
Analisis ini untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independen dengan variabel
dependen apakah masing- masing variabel independen berhubungan positif atau negatif dan untuk
memprediksi nilai dari variabel dependen apabila nilai variabel independen mengalami kenaikan
Pengaruh Kondisi Makro Ekonomi Terhadap Perubahan
Laba Operasional Bank Umum Syariah Di Indonesia
Vol 2, No 3 Maret 2023
https://jetbis.al-makkipublisher.com/index.php/al/index
293
atau penurunan. Data yang digunakan biasanya berskala interval atau rasio.
Dengan rumus sebagai berikut:
Y = a + b1X1+ b2X2 + b3X3 + b4X4 + e.....
Tabel 7
Analisis Regresi Linier Berganda
Coefficients
a
Model
Unstandardized
Coefficients
Standardized
Coefficients
B
Std.
Error
Beta
t
Sig.
1
(Constant)
-
6458.157
3898.285
-1.657
.105
Inflasi
(X1)
723.011
240.494
.442
3.006
.004
BI Rate
(X2)
-449.262
159.426
-.383
-2.818
.007
Nilai
Tukar
(X3)
.538
.243
.298
2.217
.032
GDP (X4)
106.497
159.614
.092
.667
.508
a. Dependent Variable: Laba Operasional (Y
Sumber : Output SPSS 25,2022
Berdasarkan table 7 diatas dapat diperoleh persamaan regresi linier berganda sebagai berikut:
(Y)= -6458.157 + 72,.011 (X1) -449,262 (X2) +0, 538 (X3) + 106,497 (X4) + e
Adapun interpretasi dari persamaan regresi linier berganda yaitu sebagai berikut :
a. Konstanta -6458,157 merupakan sebuah konstanta dimana memiliki arti jika variabel variabel
bebas yang ditunjuk yaitu, inflasi, BI Rate, nilai tukar dan GDP konstanta, maka nilai perubahan
laba operasional sebesar -6458,157.
b. Koefisien regresi untuk inflasi terhadap perubahan laba operasional sebesar 723,011 memiliki
arti bahwa setiap kenaikan inflasi sebesar 1% maka akan meningkatkan perubahan laba
operasional sebesar 723,011%.
c. Koefisien regresi untuk BI Rate terhadap laba operasional sebesar -449,262 memiliki arti bahwa
setiap kenaikan BI Rate sebesar 1% maka akan menurunkan perubahan laba operasional sebesar
449,262.
d. Koefieisn regresi untuk nilai tukar terhadap perubahan laba operasional sebesar 0,538 memiliki
arti bahwa setiap kenaikan nilai tukar sebesar 1% maka akan meningkatkan perubahan laba
operasional sebesar 538 rupiah.
e. Koefisien regresi untuk GDP terhadap perubahan laba operasional sebesar 106,497 memiliki arti
bahwa setiap kenaikan GDP sebesar 1% akan meningkatkan perubahan laba operasional sebesar
106,497%.
Koefisien Determinasi (R
2
)
Nilai koefisien determinasi adalah nol atau satu. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-
variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi
variabel-variabel dependen, Koefisien determinasi yaitu untuk mengetahui seberapa besar kontribusi
variabel independen (Inflasi,, BI Rate, GDP, Nilai Tukar) terhadap variabel dependen (Perubahan
Laba Operasional Bank Umum Syariah).
Vol 2, No 3 Maret 2023
Pengaruh Kondisi Makro Ekonomi Terhadap Perubahan
Laba Operasional Bank Umum Syariah Di Indonesia
294
Table 8
Koefisien Detreminasi ( Adjusted R
2
)
Model Summary
b
Model
R
R Square
Adjusted R
Square
Std. Error of
the Estimate
Durbin-
Watson
1
.526
a
.277
.209
1227.062
.959
a. Predictors: (Constant), GDP (X4), BI Rate (X2), Nilai Tukar (X3), Inflasi (X1)
b. Dependent Variable: Laba Operasional (Y)
Sumber : Output SPSS 25,2022
Dari hasil output diatas menunjukan R-Squered sebesar 20,9% artinya bahwa variabel
independen (inflasi, BI Rate, nilai tukar dan GDP) mampu menjelaskan variabel dependen laba
operasional sebesar 20,9%, sedangkan sisanya 79,1% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak
dimasukan dalam model ini. Artinya bahwa ada variabel lain diluar model yang mempengaruhi laba
bersih perusahaan.
Pengujian Hipotesis
Uji F ( Uji Simultan )
Apabaila Fhitung > Ftabel maka H0 ditolah dan Ha diterima, yang berarti variabel independen
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen dengan menggunakan signifikan
sebesar 5%, jika nilai Fhitung > F tabel maka secara bersama-sama seluruh variabel independen
mempengaruhi variabel dependen. Selain itu, dapat juga untuk melihat nilai probabilitas. Jika nilai
probabilitas lebih kecil dari 0,05 (untuk signifikansi= 5%), maka variabel independen secara
bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen. Sedangkan jika nilai probabilitas lebih
besar dari 0,05 maka variabel independen secara serentak tidak berpengaruh terhadap variabel
dependen.
Tabel 9
Hasil Uji F
ANOVA
a
Model
Sum of
Squares
df
Mean
Square
F
Sig.
Regression
24759209.455
4
6189802.364
4.111
.007
b
Residual
64744289.857
43
1505681.159
Total
89503499.313
47
a. Dependent Variable: Laba Operasional (Y)
b. Predictors: (Constant), GDP (X4), BI Rate (X2), Nilai Tukar (X3), Inflasi
(X1)
Sumber: Output SPSS 25,2022
Berdasarkan uji F pada tabel 9 diatas dapat diketahui bahwa F hitung > F tabel dengan nilai
4,111 > 2,58 dan nilai probabilitas atau tingkat signifikan yang diperoleh adalah lebih kecil dari 0,05
yaitu 0,007 dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model regresi dapat digunakan untuk
memprediksi keuntungan atau dapat dikatakan bahwa inflasi, BI Rate, nilai tukar dan GDP secara
bersama-sama berpengaruh terhadap perubahan laba operasional bank umum syariah.
Pengaruh Kondisi Makro Ekonomi Terhadap Perubahan
Laba Operasional Bank Umum Syariah Di Indonesia
Vol 2, No 3 Maret 2023
https://jetbis.al-makkipublisher.com/index.php/al/index
295
Uji T ( Uji Parsial )
Uji T adalah suatu uji yang menjadi parameter atau dapat digunakan untuk melihat pengaruh
variabel independen pada variabel dependen secara persial. Uji statistik T pada dasarnya
menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas / independen secara individual dalam
menerangkan variasi variabel dependen.
Tabel 10
Hasil Uji T
Coefficients
a
Model
Unstandardized
Coefficients
Standardized
Coefficients
B
Std.
Error
Beta
t
Sig.
1
(Constant)
-
6458.157
3898.285
-1.657
.105
Inflasi
(X1)
723.011
240.494
.442
3.006
.004
BI Rate
(X2)
-449.262
159.426
-.383
-2.818
.007
Nilai
Tukar
(X3)
.538
.243
.298
2.217
.032
GDP (X4)
106.497
159.614
.092
.667
.508
a. Dependent Variable: Laba Operasional (Y)
Sumber: Output SPSS 25,2022
Berdasarkan hasil output spss, penjelasan dari tabel 10 berikut:
1) Variabel inflasi (X1) memiliki
t
hitung sebesar 3,006 dan
t
tabel sebesar 2,01669 ( 3,006 >2,01669
) atau dengan kata lain
t
hitung lebih besar dari
t
tabel artinya variabel inflasi berpengaruh terhadap
laba operasional bank umum syariah.
2) Variabel BI Rate ( X2 ) memiliki
t
hitung sebesar -2,818 dan
t
tabel sebesar 2,01669 (-
2,818>2,01669) atau dengan kata lain
t
hitung lebih besar dari
t
tabel artinya variabel BI Rate
berpengaruh negatif terhadap laba bersih operasional bank umum syariah.
3) Variabel nilai tukar (X3) memiliki
t
hitung sebesar 2,217 dan
t
tabel sebesar 2,01669
(2,217>2,01669) atau dengan kata lain
t
hitung lebih besar dari
t
tabel artinya variabel nilai tukar
berpengaruh terhadap laba operasional bank umum syariah.
4) Variabel GDP (X4) memiliki
t
hitung sebesar 0,667 dan
t
tabel sebesar 2,01669 (0,667<2,01669)
atau dengan kata lain
t
hitung lebih kecil dari
t
tabel artinya variabel GDP tidak berpengaruh
terhadap laba operasional bank umum syariah.
Pengaruh Inflasi terhadap Perubahan Laba Operasional Bank Umum Syariah Periode 2017-
2020
Berdasarkan tabel 10 pada penelitian ini menunjukan terdapat pengaruh variabel inflasi
terhadap perubahan laba operasional. Dengan analisis regresi menunjukan inflasi memiliki nilai
koefisiensi sebesar 3.006 dengan tingkat signifikan kurang dari 0,05 yaitu sebesar 0,004. Dengan
demikian dinyatakan bahwa inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap perubahan laba
operasional atau dengan kata lain H
1
diterima. Menurut Teori Keynes, inflasi terjadi dikarena
Vol 2, No 3 Maret 2023
Pengaruh Kondisi Makro Ekonomi Terhadap Perubahan
Laba Operasional Bank Umum Syariah Di Indonesia
296
masyarakat ingin hidup diluar batas kemampuan ekonomisnya, sehingga menyebabkan permintaan
efektif masyarakat terhadap barang-barang meningkat. Daya beli masyarakat yang meningkat
menyebabkan melemahnya semangat menabung masyarakat dan menyebabkan meningkatnya
keinginan masyarakat untuk berbelanja dan memenuhi kebutuhan non primer. Hal ini meningkatkan
keinginan masyarakat untuk melakukan pembiayaan terhadap sektor perbankan. Dimana bila
permintaan pembiayaan meningkat akan meningkatkan pendapatan operasional dari bank. Penelitian
ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ragil Teki (Mulyani, 2016) yang menyatakan
bahwa variabel inflasi memberikan pengaruh positif signifikan terhadap perubahan laba operasional
bank umum syariah (Mulyani, 2016).
Pengaruh BI Rate terhadap Perubahan Laba Operasional Bank Umum Syariah Periode 2017-
2020
Berdasarkan tabel 10 pada penelitian ini menunjukan pengaruh variabel BI Rate terhadap
Perubahan laba Operasional. Dengan analisis regresi menunjukan ukuran BI Rate memiliki nilai
koefisien sebesar -2.181 dengan tingkat signifikan yang kurang dari 0,05 yaitu sebesar 0,007.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa BI Rate berpengaruh negatif dan signifikan terhadap
perubahan laba operasional bank umum syariah. BI Rate adalah suku bunga kebijakan yang
mencerminkan sikap atau stance kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan
diumumkam kepada publik. Bi Rate ( suku bunga ) menjadi salah satu faktor bagi perbankan untuk
menentukan besarnya suku bunga yang ditawarkan kepada masyarakat baik suku bunga simpanan
maupun suku bunga pinjaman. Suku bunga dapat mempengaruhi keinginan dan ketertarikan
masyarakat untuk menginvestasikan dananya di bank melalui produk-produk yang ditawarkan oleh
bank. Dengan semakin banyaknya dana yang ditanam oleh masyarakat, akan meningkatkan
kemampuan bank dalam menyalurkan dana tersebut dalam bentuk kredit yang disalurkan,
berdampak pada besarnya pendapatan yang diperoleh oleh bank. Namun, kenaikan tingkat bunga
tersebut berpengaruh negatif terhadap perubahan laba operasional bank umum syariah. Hal tersebut
dikarenakan dalam pelaksanaan bank syariah tidak mengacu pada tingkat suku bunga sehingga
pengaruhnya cenderung negatif.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Tinton Saputra et al., 2015) yang
menyatakan bahwa variabel BI Rate memberikan pengaruh negatif signifikan terhadap perubahan
laba operasional bank umum syariah (Tinton Saputra et al., 2015).
Pengaruh Nilai tukar Terhadap Perubahan Laba Operasional Bank Umum Syariah Periode
2017-2020
Berdasarkan tabel 9 pada penelitian ini menunjukan pengaruh variabel nilai tukar terhadap
Perubahan laba Operasional. Dengan analisis regresi menunjukan ukuran nilai tukar memiliki nilai
koefisien sebesar 2.217 dengan tingkat signifikan yang kurang dari 0,05 yaitu sebesar 0,032. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa nilai tukar berpengaruh positif dan signifikan terhadap perubahan
laba operasional bank umum syariah. Nilai tukar merupakan harga dimana mata uang suatu negara
dapat dikonversikan menjadi mata uang negara lain. Nilai tukar satu mata uang mempengaruhi
perekonomian apabila nilai tukar mata uang tersebut terapresiasi atau terdepresiasi. Pengaruh kurs
terhadap kondisi makro ekonomi berhubungan dengan tingkat harga berlaku, yang mempengaruhi
perilaku nasabah dalam menabung dan permintaan terhadap pembiayaan dalam menyikapi fluktuasi
nilai kurs. (Mankiw, 2020) menyatakan, “ jika kurs riil tinggi, barang-barang dari luar negeri relatif
lebih murah dan barang-barang domestik relatif lebih mahal. Jika kurs riil rendah, barang-barang
Pengaruh Kondisi Makro Ekonomi Terhadap Perubahan
Laba Operasional Bank Umum Syariah Di Indonesia
Vol 2, No 3 Maret 2023
https://jetbis.al-makkipublisher.com/index.php/al/index
297
dari luar negeri relatif lebih mahal dan barang-barang domestik relatif lebih murah. Nilai tukar mata
uang asing menjadi salah satu factor profitabilitas perbankan syariah karena dalam kegiatannya,
bank syariah memberikan jasa jual beli valuta asing. Adanya pengaruh nilai tukar mata uang
mengindentifikasi apabila mengalami apresiasi atau depresiasi maka akan berdampak pada
perubahan laba non operasional bank umum syariah. Artinya, jika mata uang domestik lebih tinggi
dari pada nilai mata uang asing, maka akan menurunkan harga barang-barang impor. Menurunnya
harga berpotensi meningkatkan perekonomian masyarakat. Apabila perekonomian meningkat maka
akan mendorong masyarakat untuk berinvestasi sehingga perubahan laba pada bank umum syariah
akan meningkat pula.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Khaerunnisa, 2019) yang
menyatakan bahwa variabel nilai tukar memberikan pengaruh positif signifikan terhadap perubahan
laba operasional bank umum syariah (Arya, 2023).
Pengaruh GDP Terhadap Perubahan Laba Operasonal Bank Umum Syariah Periode 2017-
2020
Berdasarkan tabel 9 pada penelitian ini menunjukan pengaruh variabel GDP terhadap
Perubahan laba Operasional. Dengan analisis regresi menunjukan ukuran GDP memiliki nilai
koefisien sebesar 0.667 dengan tingkat signifikan yang lebih dari 0,05 yaitu sebesar 0,0508. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa GDP tidak berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap
perubahan laba operasional bank umum syariah. GDP merupakan nilai pasar semua barang dan jasa
akhir yang dihasilkan dalam suatu periode waktu tertentu oleh faktor-faktor produksi yang berlokasi
dalam suatu negara. Produk Domestik Bruto (PDB) dapat diartikan sebagai nilai-nlai barang dan
jasa-jasa yang diproduksikan oleh perusahaan domestik atau perusahaan asing di dalam negara
tersebut dalam satu tahun tertentu. Di dalam suatu perekonomian di negara-negara maju maupun di
negara-negara berkembang barang dan jasa diproduksikan bukan hanya oleh perusahaan milik
penduduk negara tersebut tetapi juga oleh penduduk negara lain. Selalu didapati produksi nasional
diciptakan oleh faktor-faktor produksi yang berasal dari luar negeri.
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa ketika Gross Domestic Product
mengalami peningkatan, maka akan terjadi penurunan dalam pertumbuhan laba. Ketidakmampuan
Gross Domestic Product dalam mempengaruhi pertumbuhan laba dapat disebabkan oleh
peningkatan Gross Domestic Product yang diikuti oleh peningkatan pendapatan perkapita penduduk
belum tentu meningkatkan perolehan laba. Hal itu dapat disebabkan oleh meningkatnya pendapatan
domestik bruto yang berpengaruh terhadap meningkatnya pendapatan konsumen belum tentu dapat
meningkatkan pola saving masyarakat terhadap perusahaan perbankan.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Tinton Saputra et al., 2015)yang
menyatakan bahwa variabel GDP tidak berpengaruh positif signifikan terhadap perubahan laba
operasional bank umum syariah (Tinton Saputra et al., 2015).
Pengaruh Inflasi, BI Rate, Nilai Tukar dan GDP Terhadap Perubahan Laba Operasional
Bank Umum Syariah Periode 2017-2020
Berdasarkan tabel 7 pada penelitian ini menunjukan bahwa terdapat pengaruh secara simultan
antara variabel makro ekonomi terhadap perubahan laba operasional bank umum syariah . dengan
analisis regresi menunjukan nilai signifikan lebih kecil dari 0,05 yaitu 0,007, dan f
hitung
lebih besar
dari f
tabel
(4,111 > 2,58). Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa Inflasi, BI Rate, Nilai Tukar,
GDP terhadap Perubahan Laba Operasional pada Bank Umum Syariah berpengaruh positif dan
Vol 2, No 3 Maret 2023
Pengaruh Kondisi Makro Ekonomi Terhadap Perubahan
Laba Operasional Bank Umum Syariah Di Indonesia
298
signifikan (Aravik, 2016).
Teori ekonomi makro adalah pandangan system pasar bebas tidak mampu mewujudkan tenaga
kerja penuh, kestabilan harga-harga dan kestabilan perumbuhan perekonomian. Ini akan mendorong
timbulnya masalah perekonomian. Apabila suku bunga perbankan tinggi , mayarakat akan lebih suka
menyimpan dananya dibank, maka produktifitas pada sector rill akan menajdi rendah. Dikarenakan
bank kesulitan untuk mengalihkan dana pada sektor rill, akibatnya produktifitas bank menurun
karena perbankan dibebani dengan biaya pendanaan yang tinggi. Produktivitas yang rendah serta
investasi yang beresiko tinggi telah mencegah bank-bank untuk menginvestasikan dananya ke sektor
riil. Akibatnya, sistem perbankan kehilangan fungsi intermediasinya.
Meningkatnya inflasi dan nilai mata uang asing (kurs) yang semakin tinggi, mengakibatkan
harga-harga barang semakin mahal (tinggi). Semakin tinggi nilai kurs, akan menurunkan permintaan
mata uang asing tersebut dan semakin mahal mata uang asing maka penawarannya akan semakin
meningkat, begitu pula sebaliknya. Semakin banyaknya mata uang asing yang beredar di pasaran,
mengakibatkan tingginya harga-harga barang, sehingga produktifitas pada sektor riil kepada bank
menjadi rendah. Rendahnya tingkat pengembalian sektor riil kepada bank, akan menurunkan tingkat
profitabilitas bank. Apabila mata uang dalam negeri lebih tinggi dari nilai mata uang asing (kurs),
maka harga-harga barang impor menurun. Menurunnya harga-harga barang akan meningkatkan
produktifitas pada sektor riil. Akibatnya, meningkatkan perekonomian pada sektor rii, sehingga
tingkat pengembalian dana sektor riil kepada bank meningkat, akibatnya akan menaikkan tingkat
profitabilitas bank (Ardiyos, 2008).
GDP merupakan nilai pasar semua barang dan jasa akhir yang dihasilkan dalam suatu periode
waktu tertentu oleh faktor-faktor produksi yang berlokasi dalam suatu negara. Produk Domestik
Bruto (PDB) dapat diartikan sebagai nilai-nlai barang dan jasa-jasa yang diproduksikan oleh
perusahaan domestik atau perusahaan asing di dalam negara tersebut dalam satu tahun tertentu. Di
dalam suatu perekonomian di negara-negara maju maupun di negara-negara berkembang barang dan
jasa diproduksikan bukan hanya oleh perusahaan milik penduduk negara tersebut tetapi juga oleh
penduduk negara lain. Selalu didapati produksi nasional diciptakan oleh faktor-faktor produksi yang
berasal dari luar negeri. Semakin tingginya GDP suatu negara maka dapat disimpulkan bahwa
masyarakatnya memiliki kesejahteraan yang tinggi dengan demikian keuangan masyarakat akan
semakin membaik maka hal tersebut dapat meningkatkan potensi penyaluran dana yang tinggi dari
masyarkat dan mengakibatkan profit dari bank syariah.
Berdasarkan hasil uji koefisien determinasi hasil uji R Square yaitu sebesar 0,209 atau 20,9%.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa besarnya pengaruh variabel Inflasi, BI Rate, Nilai Tukar,
GDP adalah 20,9%, sedangkan sisanya 79,1% dijelaskan oleh variabel diluar penelitian.
KESIMPULAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji apakah terdapat pengaruh kondisi makro ekonomi
terhadap perubahan laba operasional bank umum syariah tahun 2017-2020. Populasi yang digunakan
dalam penelitian ini adalah Bank Umum Syariah dan sampel yang digunakan adalah 48 sampel.
Berdasarkan pada data yang telah dikumpulkan dan diuji dapat disimpulkan. Inflasi secara parsial
berpengaruh positif dan signifikan terhadap perubahan laba operasional, dengan hasil perhitungan
Inflasi (X1) terhadap perubahan laba operasional dengan thitung sebesar 3,0006 dan t tabel sebesar
2,01669 dengan signifikan sebesar 0,004 dimana lebih kecil dari 0,05. BI Rate secara parsial
Pengaruh Kondisi Makro Ekonomi Terhadap Perubahan
Laba Operasional Bank Umum Syariah Di Indonesia
Vol 2, No 3 Maret 2023
https://jetbis.al-makkipublisher.com/index.php/al/index
299
berpengaruh negatif signifikan terhadap perubahan laba operasional, dengan hasil perhitungan BI
Rate (X2) terhadap perubahan laba operasional dengan thitung sebesar -2,818 dan t tabel sebesar
2,01669 dengan signifikan sebesar 0,007 dimana lebih kecil dari 0,05. Nilai Tukar secara parsial
berpengaruh positif dan signifikan terhadap perubahan laba operasional, dengan hasil perhitungan
Nilai Tukar (X3) terhadap perubahan laba operasional dengan thitung sebesar 2.217 dan t tabel
sebesar 2,01669 dengan signifikan sebesar 0,032 dimana lebih kecil dari 0,05. GDP secara parsial
tidak berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap perubahan laba operasional, dengan hasil
perhitungan GDP (X4) terhadap perubahan laba operasional dengan thitung sebesar 0,667 dan t tabel
sebesar 2,01669 dengan signifikan sebesar 0,508. Inflasi, BI Rate, Nilai Tukar dan GDP secara
simultan berpengaruh signifikan terhadap perubahan laba operasional. Hal ini dapat dilihat dari nilai
signifikan 0,007 < 0,05 serta fhitung 4,111 > Ftabel 2,58 yang berarti ada pengaruh antara infalsi,
BI Rate, nilai tukar dan GDP terhadap laba operasional. Artinya naiknya inflasi, BI Rate, nilai tukar
dan GDP akan meningkatkan laba operasional bank.
DAFTAR PUSTAKA
Al Arif, M. N. R. (2012). Lembaga Keuangan Syariah: Suatu Kajian Teoretis Praktis. Pustaka Setia.
Google Scholar
Aravik, H. (2016). Ekonomi Islam: Konsep, Teori, Dan Aplikasi Serta Pandangan Pemikir Ekonomi
Islam Dari Abu Ubaid Sampai Al-Maududi. Malang: Empat Dua. Google Scholar
Ardiyos, S. (2008). Kamus Besar Akuntansi. Jakarta: Citra Harta Prima. Google Scholar
Arya, M. S. (2023). Analisis Pengaruh Kondisi Makro Ekonomi Terhadap Perubahan Laba
Operasional Bank Umum Syariah Tahun 2017-2020. Uin Raden Intan Lampung. Google
Scholar
Ascarya, D. Y., Achsani, N. A., & Rokhimah, G. S. (2008). Measuring The Efficiency Of Islamic
Banks In Indonesia And Malaysia Using Parametric And Nonparametric Approaches. 3rd
International Conference On Islamic Banking And Finance, Sbp-Irti, Karachi, Pakistan.
Google Scholar
Ascarya, D. Y., & Yumanita, D. (2005). Bank Syariah: Gambaran Umum. Jakarta: Pusat
Pendidikan Dan Studi Kebanksentralan. Google Scholar
Atmadja, A. S. (1999). Inflasi Di Indonesia: Sumber-Sumber Penyebab Dan Pengendaliannya.
Jurnal Akuntansi Dan Keuangan, 1(1), 5467. Google Scholar
Banurea, S. (2021). Ekonomi Indonesia Dan Permasalahannya. Madani Accounting And
Management Journal, 7(1), 1641. Google Scholar
Friedman, M. (2009). Milton Friedman. Google Scholar
Huda, N. (2018). Ekonomi Makro Islam: Pendekatan Teoritis. Prenada Media. Google Scholar
Imf, A. (2003). Imf. Obtenido De Http://Www. Imf.
Org/External/Pubs/Ft/Weo/2016/01/Weodata/Index. Google Scholar
Karim, A. A. (2007). Ekonomi Makro Islami Edisi Kedua. Google Scholar
Khaerunnisa, A. (2019). Analisis Pengaruh Kondisi Makro Ekonomi Terhadap Perubahan Laba
Operasional Pada Bank Umum Syariah Tahun 2016-2018. Skripsi Universitas Islam Negeri
Walisongo Semarang. Google Scholar
Mankiw, N. G. (2020). Principles Of Economics. Cengage Learning. Google Scholar
Muhith, A. (2017). Sejarah Perbankan Syariah. Attanwir: Jurnal Kajian Keislaman Dan Pendidikan,
6(1). Google Scholar
Mulyani, R. T. (2016). Analisis Pengaruh Variabel Makroekonomi Terhadap Profitabilitas Bank
Umum Syariah Di Indonesia Studi Pada Bank Umum Syariah Domestik Dan Campuran Di
Indonesiaperiode 2011-2014. Iain Salatiga. Google Scholar
Narbuko, C., & Achmadi, A. (2003). Metodologi Penelitian, Pt. Bumi Aksara, Jakarta. Google
Vol 2, No 3 Maret 2023
Pengaruh Kondisi Makro Ekonomi Terhadap Perubahan
Laba Operasional Bank Umum Syariah Di Indonesia
300
Scholar
Rivai, H. V., Veithzal, A. P., & Idroes, F. N. (2007). Bank And Financial Institution Management.
Raja Grafindo Persada. Google Scholar
Salvatore, D. (2020). Ekonomi Internasional. Google Scholar
Santosa, A. B. (2017). Analisis Inflasi Di Indonesia. Google Scholar
Sukirno, S. (2015). Makro Ekonomi Teori Pengantar Edisi 3. Pt Rajagrafindo Persada. Google
Scholar
Swandayani, D. M., & Kusumaningtias, R. (2012). Pengaruh Inflasi, Suku Bunga, Nilai Tukar Valas
Dan Jumlah Uang Beredar Terhadap Profitabilitas Pada Perbankan Syariah Di Indonesia
Periode 2005-2009. Akrual: Jurnal Akuntansi, 3(2), 147166. Google Scholar
Tinton Saputra, A., Utomo, Y. P., & Muhtarom, M. (2015). Pengaruh Variabel Makroekonomi
Terhadap Profitabilitas Perbankan Syariah Di Indonesia Periode 2010-2013. Universitas
Muhammadiyah Surakarta. Google Scholar
licensed under a
Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License